Kamis, 20 Juni 2013

Jugun Ianfu

Cerpen ini aku buat untuk memenuhi tugas akhir Bahasa Indonesia kelas X di SMA Negeri 1 Pasuruan, Bu Dian makasih buat tugasnya. selesai baca kasih komentar ya :)
Jugun Ianfu
Sering kali hatiku menjerit ditengah dinginnya malam, betapa tidak hampir seluruh masyarakat Indonesia menganggap aku dan teman-temanku ini seorang wanita tuna susila yang rela menjual tubuhnya demi melayani nafsu bejat tentara Jepang, tahun 1942-1945 saat menjajah Indonesia. Yang saat ini berteriak-teriak menuntut Hak Asasi Manusia yang menurut mereka tak jelas untuk apa. “WTS kok minta pertanggung jawaban HAM, salah mereka sendiri kenapa mau dijadikan budak seks”. Kata-kata itu yang sering ku dengar saat aku menyuarakan Hak-hakku, dan mungkin anda juga bingung siapa sebenarnya aku ini.
Darpita namaku, saat ini umurku telah 85 tahun, entah apa yang membuat aku bisa bertahan hidup sampai detik ini. Mungkin Tuhan menginginkan aku untuk menuntut seluruh Hak-hakku dan teman-temanku. Aku ketua komunitas “Bekas” Jugun Ianfu Indonesia. Aku dipilih karena hanya akulah yang “sehat” diantara 270 teman-temanku yang masih hidup, dan mengakui bahwa mereka adalah “bekas” Jugun Ianfu. Tidak semua “bekas” Jugun Ianfu mengakui statusnya. Jugun Ianfu bukanlah pelacur, kami bukanlah wanita tuna susila, dan kami juga tidak pernah rela diperlakukan seperti ini, kami adalah korban, korban kebiadapan bangsa Jepang.
Keadilanlah yang kami cari, Kedutaan-kedutaan Negara asing yang berdiri di Negara ini seringkali kami satroni, hanya ntuk secuil keadilan, tapi Hanya Belandalah yang memberikan kompensasi bagi kami, sementara Jepang sang biang kerok, menoleh hanya untuk melihat kisah pun mereka tak mau.
Semuanya berawal di pagi gerimis senin 23 November 1942.Umurku menginjak 14 tahun. Saat itu aku duduk termenung sendiri diteras Joglo rumah peninggalan orang tuaku. Bapakku telah meninggal 10 tahun yang lalu saat aku berumur 4 tahun. Bapak meninggal tepat didepan mata kepalaku sendiri, saat itu aku tak mengerti apa yang menyebabkan orang ganteng-ganteng itu memberondol  bapakku. Pelan tapi pasti darah mengalir deras dari tubuhnya yang terkena tembakan pelor-pelor itu. Seketika tubuh bapak lemas dan jatuh tersungkur ke tanah. Aku melihat dengan jelas saat bapak mengerang kesakitan, nyawanya diambil oleh Sang Kuasa. Semoga bapak berada di surga yang indah, bersama para syuhada dan pahlawan yang telah gugur untuk membela kemerdekaan bangsa ini.
Ibuku pun telah tiada, berbeda dengan bapak, ibu meninggal saat melahirkan aku, sejak kecil pun aku tak pernah tau bagaimana wajah cantik ibuku,dan seperti apakah rasa nikmat dibelai dalam pangkuan ibu, yang aku tahu dari bapak hanya ibu sangat sayang kepadaku.
Aku adalah anak semata wayang yang sekarang telah menjadi yatim piatu sejak 10 tahun yang lalu. Setelah kepergian bapak aku tinggal bersama Lek Tijah satu-satunya perawan tua di Desaku. Yang rela merawatku dan menganggap aku ini seperti anak kandungnya. Lek Tijah tinggal bersamaku makan pun bersamaku. Lek Tijah adalah adik Ibuku seringkali Lek Tijah menceritakan kenangan indah masa lalunya bersama Ibuku yang membuatku semakin ingin tahu seperti apakah ibuku ?. Apakah beliau baik dan cantik seperti yang diceritakan Lek Tijah.
Renunganku membuyar saat Lek Tijah datang tergopoh-gopoh.
“ Nduk ayo cepat masuk ada Jepang datang” Lek Tijah berbicara dengan nafas yang terputus-putus.
“Ada apa toh Lek ?.”
“ Sudahlah nduk. Ayo masuk dari pada kamu diculik sama Jepang” Lek Tijah menarik-narik tanganku.
Aku menuruti apa kata Lek Tijah. Aku masuk kedalam kamarku. Sementara itu Lek Tijah sibuk mengkunci pintu dan menutup semua jendela-jendela. Setelah itu Lek Tijah masuk kedalam kamarku. Dan aku mencoba memulai pembicaraan dengan nada keseriusan.
“ Tapi lek Jepang itu baik, tidak seperti Belanda yang telah membunuh bapak.”
“ Baik dari mana nduk ?. yang namanya penjajah sudah pasti jahat “
“ Lek salah, Jepang bukan penjajah Lek. Mereka telah menyelamatkan kita dari  Jajahan Belanda Lek.” Aku terus-terus saja membantah pembicaraan Lek Tijah.
“ Tidak nduk, mereka sama saja seperti Belanda, mereka ingin menguasai bangsa dan tanah air kita ini nduk “.
“ Lek salah, lek benar-benar salah, mereka semua baik Lek, apa Lek tidak melihat pawai mereka lusa lalu Lek ?”
“ Lek melihatnya nduk, slogan 3A itu hanya omong kosong, mereka sama biadapnya seperti Belanda ”.
“  3A bukan omong kosong Lek, itu nyata adanya. Mereka ingin menjadi Cahaya, Pemimpin dan Pelindung Asia dan juga Indonesia ini Lek.”.
“ Sudah nduk, kamu jangan percaya, mereka sama biadapnya dengan Jepang”
Pembicaraanku dengan Lek Tijah terhenti, saat aku mendengar derap langkah prajurit Jepang semakin mendekat, dan tiba-tiba pintu depan terdobrak dengan keras. Lek Tijah segera keluar dari kamarku dan masuk kedalam kamarnya, yang terletak disamping kanan kamar tidurku. Aku mengikuti Lek Tijah dari belakang. Betapa kagetnya aku saat Lek Tijah membuka almari besar yang berada dikamarnya. Lemari itu bukan berisi pakaian ataupun bahan makan. Lemari itu dipenuhi Senjata Laras panjang, amunisi-amunisi bahkan pelor-pelor besar yang tertatah rapi. Baru detik ini aku melihat isi almari Lek Tijah. Setiap hari Lek Tijah selalu mengunci rapat-rapat almari itu. Tangan kekar Lek Tijah mengambil salah satu diantara senapan itu. Dengan sigap ia memasukkan banyak pelor berukuran sepanjang 2 ruas  jari.
Door… dor .. dor … dor ..suara tembakan memecahkan ingatan masa laluku saat bapak terbunuh.
“  Pit diam disini. Kamu jangan keluar sebelum Lek menyuruhmu”.
Aku tidak bisa berkata apapun, pikiranku telah rancu. Aku melihat Lek keluar dari kamar dengan menenteng senjata lengkap, bulu kudukku merinding, entah apa saja yang aku pikirkan saat itu, hati dan jiwaku terlalu kalut.
Dor.. dor .. Lek Tijah melepaskan tembakan. Aku melihatnya dari lubang kecil di tembok kamar Lek Tijah. Lek Tijah terlihat begitu berani dan gagah.
Dor.. dor.. dor .. dor… Tentara Jepang, mereka memberondol Lek Tijah. Sepertinya tidak ada peluru yang mengenai tubuhnya, tubuh kuat Lek Tijah masih tetap berdiri.
Dor .. dor. dor  .. dor .. dor.. Lek Tijah membalasnya secara bertubi-tubi. Ku dengar lolong kematian tentara Jepang menyeruak memenuhi rumahku. Sepetinya seorang prajurit Jepang tewas di tangan Lek Tijah.
Hujan tembakan terus saja terdengar. Aku tak lagi berani untuk mengintipnya. Didalam kamar Lek Tijah aku terus saja berdoa agar Lek selamat. Dan aku pun merasa bersalah, yang benar adalah Lek, Jepang memang penjajah dan ingin menuasai negeri ini. Konsentrasiku teralihkan ke sebuah tas kulit usang berwarna coklat muda yang tergeletak di atas kasur Lek Tijah. Ku memberanikan diri untuk membukanya. Ternyata tas tersebut berisi surat-surat. Entah isinya seperti apa, aku tak bisa membacanya dengan lancar. Surat-surat itu penuh dengan kode-kode yang tak jelas apa maknanya.
Dor. Dor.. dor .dor .. dor… Dor .. dor.. dor .. dor . DOR..
Setelah tembakan terakhir, aku mendengar teriakan Lek Tijah, setelah itu terdengar seperti suara syahadat yang diucapkan Lek Tijah. Aku semakin gemetar, setelah suara Lek Tijah tak terdengar lagi, aku mendengar derap langkah kaki mendekat kearah Lek Tijah, kemudian.. DOR … suara tembakan yang terdengar keras sekali. Tak ku sadari aku menitihkan air mata.
Beberapa saat kemudian aku memberanikan diri keluar dari kamar Lek Tijah. Tubuh Lek Tijah terbujur kaku tepat didepan pintu kamar tidurnya, dan tepat dibawah kakiku, seketika kakiku lemas dan aku pun tak kuasa berdiri. Darah segar menggenang disekitarnya. Dahinya berlubang dan mengalirkan darah segar. Aku tak peduli seanyir apakah darah itu, ku dakap tubuh Lekku itu. Senjata itu masih erat digenggaman Lek Tijah. Seketika itu muncul dalam diriku, rasa kebencian kepada jahanam-jahanam itu.
Jam baru menunjukan pukul 11.00 siang, tiga jam yang lalu aku masih berdebat tentang Jepang bersama Lek Tijah, tetapi sekarang Lek sudah beristirahat di halaman  belakang rumahku ini. Proses pemakaman Lek memang cepat, orang-orang lebih memilih mengusung senjata untuk berperang daripada mengusung keranda dan melakukan ritual-ritual kematian.
Aku masih tidak percaya dengan kepergian Lek Tijah yang secepat itu, pesan terakhir pun tak pernah ku dengar dari Lek Tijah. Bahkan permintaan maaf pun belum sempat ku ucapkan untuk Lek. Pintu rumah tiba-tiba terketok. Awalnya aku takut untuk membukanya, tapi aku teringat Lek, Lek saja berani menghadapi tentara Jepang seorang diri, terlalu munafik jika membuka pintu saja aku tak berani.
“ Ini benar rumah Sutijah ? “ Tanya seorang lelaki pribumi yang cukup tampan itu kepadaku. Tapi aku tak tahu siapa orang itu.
“ Benar, Lek Tijah baru saja meninggal”  sahutku dengan mata masih berkaca-kaca.
Setelah mempersilahkan pribumi duduk diruang tamu, aku membuatkanya teh, sepertinya orang itu adalah temannya Lek Tijah.
“ Kamu Darpita ?” tanyanya
“ Iya benar, mas ini siapa ?”
“ Namaku Sutejo, panggil saja Mas Tejo” sahut Mas Tejo dengan santun.
“ Mas Tejo ada perlu apa kemari ?”
“  Sebelumnya Mas mau cerita ke kamu nduk, Lekmu Sutijah, bergabung bersama kami PPI, yaitu Pemuda Pejuang Indonesia, Lekmu satu-satunya wanita di perkumpulan ini, itulah yang membuat Lekmu tak mau menikah, cita-cita Lekmu hanya 1 nduk. Memerdekakan Indonesia atau mati syahid dimedan perang “ tutur Mas Tejo dengan wibawa.
“ Pantas saja Mas, dikamar Lek, banyak sekali senjata”. Sahutku dengan nada kesedihan yang belum saja menghilang.
“ Sebenarnya kami melarang wanita bergabung dalam organisasi kami nduk, tapi Lekmu memiliki tekat yang kuat untuk memerdekakan bangsa ini, kami akhirnya menugaskan Lekmu untuk menjadi kurir surat PPI, “
“ Sebentar mas, mungkin ini berguna untuk mas dan teman-teman mas di PPI”. Setelah mendengar kata kurir surat, aku teringat surat yang berada di tak kulit itu. Aku mengambilnya dari kamar Lek. dan memberikannya kepada Mas Tejo.
“ Kamu tahu surat-surat ini berisi apa nduk ?“ setelah membolak balik. Dan membuka satu persatu surat milik Lek Tijah.
“ Tidak Mas, saya baru bisa baca dan tidak mengerti, terlalu banyak kata-kata susah“
“ Surat-surat ini berisi semua strategi perang kita” kata Mas Tejo sambil menunjukkan isi surat kehadapanku. “ Disini banyak sekali simbol-simbol nduk”
“ Mengapa memakai simbol-simbol mas? . Bukannya lebih mudah membacanya kalau memakai huruf biasa ??”
“ Ini strategi nduk, kalau pakai huruf biasa, saat kurir tertangkap tentara jahanam itu, mereka akan tahu bagaimana strategi kita “
Aku tak pernah menyangka, ternyata Lek Tijah ikut dalam organisasi “pemberontak”. Dan keingin tahuanku semakin menjadi, setelah mendengar penuturan Mas Tejo.
“ Mereka itu orang Belanda dan Jepang Mas, mana mungkin mereka bisa berbahasa Indonesia “
“ Mereka mempunyai antek-antek yang berasal dari bangsa Indonesia sendiri nduk”
“ Berarti mereka penghianat Mas ?”
“ Benar nduk, Cut Nyak Dien, Pangeran Diponegoro, Untung Suropati, mereka saja dihianati bangsa kita sendiri, apalagi kita nduk “
“ Mas aku ingin bergabung dengan PPI, untuk meneruskan perjuangan Lekku mas “.
“ Tidak semudah membalikkan telapak tangan untuk menjadi pejuang kemerdekaan Indonesia ini nduk”
“ Mengapa Mas, bukannya semua orang bisa ?”
“ Tetapi itu semua membutuhkan kekuatan fisik dan kecerdasan nduk “
“ Mas menganggap aku tidak memiliki fisik yang kuat, karena tubuhku yang kecil dan kurus ini, aku bisa Mas, aku berjanji Mas, Memerdekakan Bangsa ini atau syahid “.
“ Semangatmu seperti Lekmu nduk, kamu pikirkan dahulu kemauanmu itu nduk, tugas kita berat nduk, jika keberadaan kita tercium mereka akan menyatroni kita, seperti Lekmu yang disatroni, sampai dibunuh nduk “.
“ Aku tak peduli Mas “
“ Besok atau Lusa Mas akan kemari lagi, untuk mengabarimu, Mas juga harus berunding dengan teman-teman Mas”
“ Baiklah Mas “
“ Mas pulang dahulu ya dan surat-surat ini Mas bawa, ini ada rezeki untuk kamu Pit, terima saja, ini tak sebanding dengan jasa Lekmu. “
“ Terima kasih Mas“.
Tak terasa perbincanganku dengan Mas Tejo 2 jam lamanya, terlalu banyak hal menarik yang kami bicarakan. Wajah Lek Tijah pun masih terbayang jelas diingatanku.
Keesokan harinya Mas Tejo yang kutunggu tak kunjung datang, lusa, sampai satu minggu setelahnya, batang hudungnya pun tak terlihat. Aku pun mulai ragu dengan Mas Tejo.
Aku masuk kedalam kamar Lek Tijah dan membuka almari senjatanya, terkagum-kagum aku melihat kearistokratan senjata-senjata itu. Aku pegang satu-persatu senjata-senjata itu. Dibawah tumpukan pelor-pelor ada buku usang, aku membuka dan membacanya walaupun tertatih-tatih. Buku tersebut ternyata berisi cara-cara pemakaian seluruh senjata itu. Adrenalinku melaju kencang, kubawa semua pelor-pelor dan senjata itu kehalaman belakang dan mencoba merakit dan memainkannya.
Setiap hari kegiatanku sama saja, pagi hari aku berjualan ubi hasil panen kebun belakang rumah untuk biaya hidup dan siang sampai sore hari aku mencoba memainkan senjata-senjata aristokrat itu.
Hari keempat aku memainkan senjata-senjata itu, aku merasa ada yang memata-mataiku dari luar pagar halaman belakang, sepertinya aku tak asing dengan sosok itu. Mas Tejo, aku yakin orang tersebut Mas Tejo.
“ Mas Tejo, kaukah itu Mas, kemarilah Mas lihat aku sudah bisa menembak, aku pasti bisa masuk kedalam barisan PPI “
Tetapi tak ada sahutan Mas Tejo justru lari dan hilang entah kemana, aku tak ambil pusing dengan hal tersebut. Aku berfikir mungkin Mas Tejo hanya melihat apakah aku layak masuk kedalam barisan perjuangannya.
Dor .. terdengar letupan senjata dari arah belakangku, aku yang saat itu memegang senjata yang dibawa Lek Tijah saat kematiannya, berbalik dan melihat siapa yang meletupkan senjata itu, Tentara Jepang. 4 Tentara Jepang berdiri dihapanku, mereka memakai pakaian tentara lengkap, wajah oriental mereka terdapat garis-garis kebengisan dan kebencian yang teramat nyata. Kuangat senjataku dan .
Dor .. dor.. dor.. dor.. dor.. dor.. ku berondol 4 tentara biadap itu. Tak ku sangka pelor-pelor itu bersarang di ketiga tentara-tentara itu, ketiganya roboh, oh Tuhan aku telah membunuh 3 nyawa. Apakah aku berdosa Tuhan ?. tinggal seorang tentara lagi dihadapanku. Aku sudah tak mampu lagi memegang senjata, tangan dan kakiku gemetar, aku telah membunuh 3 nyawa jahanam. Lek Tijah saja hanya membunuh 1 nyawa diantara 5 nyawa.
Dor. Kurasa ada pelor yang menembus kakiku, aku tak kuat berdiri lagi dan aku jatuh terhunyung ketanah.
Saat ku terbangun aku berada di bangunan tinggi, tua, dan berarsitektur belanda, ini adalah markas tentara Jepang, aku merasa kalau tubuhku ini tak tertupi oleh selembar kainpun, aku telanjang. Aku lihat sekelilingku 3 orang lelaki dewasa tanpa pakaian selembarpun duduk-duduk sambil menghisap rokok di sofa seberang dipan, 2 orang diantara mereka berwajah oriental, tetapi satu diantara mereka adalah Mas Tejo.
“ Siapa kalian, kembalikan bajuku” Mas Tejo yang tangan kanannya mengapit sebatang rokok menghampiriku, dan meniupkan asap rokok itu tepat didepan mukakku.
“ Nduk, kamu terlalu cantik, dan mudah dibodohi, kamu mudah sekali percaya kepada orang yang tak kamu kenal, lihat tumpukan surat dimeja itu, terima kasih, karena surat-surat yang kamu berikan kepadaku itu aku mendapat komisi yang luar biasa dari Jepang “
“ Keparat kau Mas, engkau telah menghianati bangsa ini hanya untuk kepentinganmu saja, mana rasa kemanusiaanmu, mana solidaritasmu mas”
Sepertinya Mas Tejo mulai marah mendengar caci makianku. Dengan cepat ia mencumbuiku seperti hewan, aku berteriak kesakitan tapi Mas Tejo tak peduli, dia terus saja mencumbuiku. Apa daya, aku remaja 14 tahun yang tak memiliki kekuatan apapun. Melawan Mas Tejo yang berusia 30 tahunan. Mas Tejo telah selesai mencumbuiku, sekarang aku digilir oleh kedua Tentara Jepang itu. Sejak hari itu aku terus saja dipaksa menjadi budak seksual mereka, tak terhitung berapa ratus Tentara Jepang yang telah mencumbuiku.
1994 Hampir 2 tahun aku tinggal di Neraka itu, saat itu umurku 16 tahun, seringkali aku berfikir berapa banyak dosa yang harus aku tanggung. Suatu saat aku merasa ada yang aneh dalam tubuhku. Perutku semakin membesar dan itu berarti aku hamil. Saat aku hamil pun mereka tetap saja mencumbuiku, benar-benar biadap.
Usia kandunganku mencapai 5 bulan. Setiap kali dicumbu aku selalu menangis entah apa saja yang membuatku menangis, terlalu banyak alasan untuk itu. Seorang tentara menjemputku dari kamar itu dan membawaku keluar dari rumah neraka itu, aku merasa senang, mungkin mereka sudah bosan atau mereka sudah tidak puas lagi untuk mencumbuiku. Aku dibawa pergi dengan menaiki mobil bak terbuka, aku tak tahu akan dibawa kemana, mobil itu berhenti disebuah rumah yang sama-sama berarsitektur Belanda juga, dan aku disuruhnya masuk kedalam rumah tersebut. Betapa kagetnya aku, ku temukan hampir 500 wanita pribumi yang sama nasibnya seperti aku.
“ Permisi, anda hamil juga ?” tanyaku kepada salah seorang diantara mereka.
“ Iya saya dipaksa jadi Jugun Ianfu, orang tua saya terbelit hutang dengan Jepang, sebagai ganti untuk melunasi hutang-hutang tersebut ya saya ini “
“ Jugun Ianfu apa itu ?”
“ Kita ini diberi julukan sama Jepang Jugun Ianfu, julukan itu diberikan kepada budak-budak seks seperti kita ini “
Aku tak puas mendengar jawaban wanita tadi, mana mungkin ada orang tua yang rela menyerahkan anak gadisnya untuk budak seksual para penjajah. Semenjak aku dihianati Mas Tejo, aku tidak pernah lagi percaya dengan omongan orang yang tak ku kenal.
“ Mbak kenapa ?” aku menghampiri wanita yang duduk bersandar dipojok ruangan, yang terlihat sedih dan murung.
“ Andai saya jelek, saya tidak mungkin dijadikan Jugun Ianfu mbak, saya diambil paksa dari orang tua saya, bahkan mereka mencunbuiku didepan kedua orang tuaku” setelah bercerita wanita cantik itu kemudian menangis.
“ Maaf mbak saya membuat mbak menagis”
“ Tak apalah mbak toh nasib kita juga sama”
Wanita itu melanjutkan tangisan kesedihannya. Dan aku pun beranjak dari wanita itu. Aku masih penasaran bagaimana cara mereka, sehingga mereka sampai di daerah bedebah ini. Aku menghampiri seorang wanita yang lebih tua dariku.
“ Mengapa anda terlihat gembira, apakah anda tidak bersedih seperti lainnya ?”
“ Kenapa, harus bersedih, aku ikhlas disini, bahkan aku datang kesini secara suka rela” wanita itu memasang wajanh tanpa bersalah. Sepertinya wanita ini mengalami gangguan kejiwaan.
Tiba-tiba ada yang menarik tanganku, seorang wanita pribumi yang sudah berbau tanah. Aku dimasukkan keruangan kecil. Didalamnya terdapan sebuah kasur kecil serta dupa-dupa, baskom air, serta sewek-sewek. Aku disuruhnya berbaring, aku rasa aku tahu apa yang hendak ia lakukan, Aborsi, ia hendak mengguggurkan kandunganku. Kutemui satu lagi penghianat bangsa ini. Perutku dipijat-pijatnya sekuat tenaga, darah mulai mengalir dari vaginaku, dukun itu terus saja memijat-mijat perutku, aku mengerang kesakitan, tapi ia tak memedulikannya, tenagaku pun habis, pingsanlah aku diatas ranjang dukun itu.
Rumah Belanda ini adalah tempat penampungan para Jugun Ianfu yang bermasalah, mulai hamil, vagina yang telah rusak parah yang sudah tak bisa dinikmati lagi, sampai mereka Jugun Ianfu yang sudah berbau tanah. Di tempat itu aku mendapat banyak pelajaran tentang perjuangan, yang itu mengingatkan ku tentang perjuangan Bapak, Lek Tijah, dan Ibu yang berjuang saat melahirkanku.
Tahun memasuki 1945 aku tetap saja berada dirumah itu, aku mencoba beberapa kali untuk kabur, tapi antek-antek mereka terlalu banyak dan tersebar diseluruh penjuru rumah itu.
Hari-hariku, ku habiskan untuk menumbuhkan semangat juang diantara teman-teman seperjuanganku. Aku memotifasi mereka, walaupun kita seperti ini bukan berarti kita sudah bukan lagi manusia, bahkan saat harga diri kita ini direndakan kita harus membelanya.
Tentara Jepang mulai hilang satu-persatu,perlahan tapi pasti, lama kelamaan jumlah mereka semakin sedikit. Aku telah menyusun rencana pelarian bersama 500 Jugun Ianfu lainnya, tetapi hanya sepertiga diantara mereka yang mau ikut denganku. Mereka lebih memilih dizona aman, sebab jika tertangkap saat kabur bisa saja kita dihukum mati. Saat hari yang ditentukan hanya 150 diantara kita yang ingin bebas. Kita menyebar lewat pintu depan dan belakang. Pukul 12.00 saat jam makan siang kami mulai menerapkan rencana. Tak lupa sebelum bertindak kami berdoa kepada Tuhan menurut agama dan keyakinan masing-masing. Tidak ada kekuatan yang lebih kuat dialam ini selain kekuatan Tuhan. Tepat pukul 13.00, 150 orang diantara kami semuanya bisa menghirup udara kebebasan.
Ternyata diluar sini kemerdekaan semakin keras didengung-dengungkan. Aku yang berusia 17 tahun bergabung bersama mereka untuk membebaskan bangsa ini dari bangsa jahanam, aku tak peduli masa laluku seperti apa. Yang terpenting saat ini adalah Merdeka atau Mati.
17 Agustus 1945 ada radio yang dipasang ditengah-tengah lapangan. Tepat pukul 10.00 aku mendengar proklamasi kemerdekaan Indonesia didengungkan. Lagu Indonesia Raya pun terdengar elok bersahut-sahutan dinyanyikan masyarakat Indonesia ini.
Indonesia Raya merdeka merdeka
Tanahku negeriku yang kucinta
Indonesia Raya medeka merdeka
Hiduplah Indonesia Raya
            Air mata ini menetes tak kusangka aku menyaksikan kemerdekaan bangsa ini. Ibu, Bapak, Lek Tijah bangsamu sekarang merdeka.